Minggu, 05 Sep 2010
Renewable Energy...Apakah ancaman buat PLN? PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 06 May 2010 10:29

 

Teknologi listrik Mandiri saat ini sedang dalam riset
penyempurnaan agar didapat listrik yang murah dan dapat
diaplikasikan dalam rumah. Sebut saja turbin angin, genset
gas dan solar cell. Ketiga jenis teknologi ini dapat dipasang
di rumah tangga secara mudah. Memang untuk saat ini
harga per kWh-nya tidak ekonomis dibandingkan PLN
karena biaya produksinya tinggi akibat faktor material.
Untuk turbin angin yang dijual di pasaran Indonesia
harganya sekitar 20 juta per 1000 W termasuk battere dan
charge controller. Untuk solar cell, harga pasaran di
Indonesia sekitar 5 juta per 50WP. Sedangkan untuk harga
genset gas untuk 1000 W saja sekitar 10 juta dan kendala dari genset gas ini adalah
harga LPG dan kontinuitas supply. Tetapi dengan kemajuan teknologi material dan
penyediaan sumber energy primer yang mudah seperti pipanisasi gas, tidak
mungkin ketiga jenis listrik mandiri ini dapat dipasang dengan harga murah
sehingga mengancam bisnis PLN. Indonesia saat ini mempunyai Professor di bidang
teknologi material solar cell Prof Wilson Wenas dari Fisika ITB yang sedang meneliti
teknologi double layer dengan teknologi nano untuk solar cell sehingga harga 50Wp
akan dapat diperoleh dengan harga 500ribu rupiah. Artinya untuk mendapatkan
listrik 450Watt, cukup mengeluarkan ongkos 4.5 juta ditambah dengan battere dan
charge controller, habis sekitar 6 juta rupiah untuk listrik 450Watt sama dengan
pelanggan R1 PLN tetapi dengan biaya bulanan nol rupiah alias gratis. Begitu juga
dengan teknologi turbin angin, saat ini perusahaan Amerika Tangarie Alternative
Power yang bermarkas di New Jersey berhasil membuat wind turbine dengan
kecepatan minimum 1.5 sampai 2 meter/detik atau kecepatan angin rata-rata di
ketinggian 2-10 meter bahkan bisa bertahan pada kecepatan angin 60 meter/ detik
(angin puyuh). Bahkan perusahaan ini mengklaim produknya tahan di segala jenis
cuaca termasuk bersalju. Dengan desain yang low noise, tidak mengurangi estetika
rumah, berat yang lebih ringan dan tidak memerlukan perawatan, sangat sesuai
digunakan di rumah-rumah. Saat ini untuk paket lengkap yang terdiri dari turbin
angin, solar cell dan lampunya, dipatok harga 7000 US$ atau sekitar 70 juta rupiah.
Harga ini akan cenderung turun mengikuti teknologi material yang semakin murah
dengan kapasitas daya yang semakin besar. Tidak tertutup kemungkinan tahun
2020 atau 12 tahun mulai sekarang, teknologi ini akan dicapai dengan harga 5 juta
rupiah, anda bisa dapatkan kapasitas 900Watt atau sama dengan pelanggan R2
PLN saat ini. Begitu juga dengan genset gas, ada rencana dari pemerintah untuk
membangun pipanisasi gas untuk rumah tangga seperti halnya di Amerika. Artinya,
setiap rumah tangga akan dialiri gas melalui pipa seperti halnya pipa PDAM. Di
beberapa tempat di Tangerang, Banten sudah dipasang pipanisasi gas ini. Jika
sudah tersedia gas dengan harga murah, maka tinggal dipasang genset gas dengan
harga pasaran sekitar 5 juta rupiah per 1000 W made in China. Artinya, rumah
tangga tinggal memasang genset gas ini parallel dengan kompor gas untuk
memasak. Sehingga tidak dibutuhkan sambungan SR dari PLN dan tidak perlu
mengantri untuk mendapatkan kWhmeter listrik dengan harga mahal dan
terkadang melalui oknum calo dan yang pastinya tidak akan mengalami
pemadaman karena gangguan jaringan atau gangguan pembangkit. Jika sudah
demikian, apakah masih dibutuhkan peranan PLN di sini? Apakah masih dibutuhkan
pembangkit, transmisi dan distribusi ? Dalam tulisan saya sebelumnya, sebuah
rumah tangga bahkan bisa menjual listrik ke jala-jala PLN jika oversupply, artinya
rumah tangga itu sudah tidak menjadi pusat beban lagi (load center) melainkan
sudah menjadi pusat pembangkit skala kecil (mikrogrid). Sehingga, mau tidak mau
PLN sebagai pemegang monopoli listrik saat ini di Indonesia akan berhadapan
dengan produsen listrik skala kecil sehingga bisnisnya akan terancam. Dan tidak
tertutup kemungkinan biaya untuk investasi tiang, tower dan pembangkit skala
besar akan bergeser ke skala kecil yang lebih murah dan ramah lingkungan. Kalau
sudah demikian, PLN akan dituntut perubahan secara cepat (re-engineering) seperti
halnya Telkom terdahulu. Beberapa orang mengatakan PLN tidak bisa dibandingkan
apple to apple dengan Telkom, tetapi menurut saya dengan semakin murahnya
listrik mandiri ini memaksa PLN untuk merevitalisasi bisnisnya ke bisnis skala kecil
dan memangkas biaya investasi. Sehingga tidak tertutup kemungkinan bisnis listrik
eceran seperti ini akan muncul di kemudian hari. Siapkah Anda menghadapi
ancaman bisnis ini? Penulis berpendapat, tidak ada bisnis yang disubsidi secara
abadi, artinya suatu saat PLN akan menghadapi suasana kompetitif yang sangat
berat seperti halnya Telkom saat ini menghadapi gempuran provider GSM dan
CDMA swasta. Hanya pegawai yang capable siap menghadapi situasi ini, sedangkan
yang tidak, lebih baik pensiun dini (retired). Karena listrik adalah untuk kehidupan
yang lebih baik dan setiap orang berhak atas listrik yang murah.
Teknologi listrik Mandiri saat ini sedang dalam riset penyempurnaan agar didapat listrik yang murah dan dapat diaplikasikan dalam rumah. Sebut saja turbin angin, genset gas dan solar cell. Ketiga jenis teknologi ini dapat dipasang di rumah tangga secara mudah. Memang untuk saat ini harga per kWh-nya tidak ekonomis dibandingkan PLN karena biaya produksinya tinggi akibat faktor material. Untuk turbin angin yang dijual di pasaran Indonesia harganya sekitar 20 juta per 1000 W termasuk battere dan charge controller. Untuk solar cell, harga pasaran di Indonesia sekitar 5 juta per 50WP. Sedangkan untuk harga genset gas untuk 1000 W saja sekitar 10 juta dan kendala dari genset gas ini adalah harga LPG dan kontinuitas supply. Tetapi dengan kemajuan teknologi material dan penyediaan sumber energy primer yang mudah seperti pipanisasi gas, tidak
mungkin ketiga jenis listrik mandiri ini dapat dipasang dengan harga murah sehingga mengancam bisnis PLN.

Indonesia saat ini mempunyai Professor di bidang teknologi material solar cell Prof Wilson Wenas dari Fisika ITB yang sedang meneliti teknologi double layer dengan teknologi nano untuk solar cell sehingga harga 50Wp akan dapat diperoleh dengan harga 500ribu rupiah. Artinya untuk mendapatkan listrik 450Watt, cukup mengeluarkan ongkos 4.5 juta ditambah dengan battere dan charge controller, habis sekitar 6 juta rupiah untuk listrik 450Watt sama dengan pelanggan R1 PLN tetapi dengan biaya bulanan nol rupiah alias gratis. Begitu juga dengan teknologi turbin angin, saat ini perusahaan Amerika Tangarie Alternative Power yang bermarkas di New Jersey berhasil membuat wind turbine dengan kecepatan minimum 1.5 sampai 2 meter/detik atau kecepatan angin rata-rata di ketinggian 2-10 meter bahkan bisa bertahan pada kecepatan angin 60 meter/ detik (angin puyuh). Bahkan perusahaan ini mengklaim produknya tahan di segala jenis cuaca termasuk bersalju. Dengan desain yang low noise, tidak mengurangi estetika rumah, berat yang lebih ringan dan tidak memerlukan perawatan, sangat sesuai digunakan di rumah-rumah. Saat ini untuk paket lengkap yang terdiri dari turbin angin, solar cell dan lampunya, dipatok harga 7000 US$ atau sekitar 70 juta rupiah. Harga ini akan cenderung turun mengikuti teknologi material yang semakin murah dengan kapasitas daya yang semakin besar.


Tidak tertutup kemungkinan tahun 2020 atau 12 tahun mulai sekarang, teknologi ini akan dicapai dengan harga 5 juta rupiah, anda bisa dapatkan kapasitas 900Watt atau sama dengan pelanggan R2PLN saat ini. Begitu juga dengan genset gas, ada rencana dari pemerintah untuk membangun pipanisasi gas untuk rumah tangga seperti halnya di Amerika. Artinya, setiap rumah tangga akan dialiri gas melalui pipa seperti halnya pipa PDAM. Di beberapa tempat di Tangerang, Banten sudah dipasang pipanisasi gas ini. Jika sudah tersedia gas dengan harga murah, maka tinggal dipasang genset gas dengan harga pasaran sekitar 5 juta rupiah per 1000 W made in China. Artinya, rumah tangga tinggal memasang genset gas ini parallel dengan kompor gas untuk memasak. Sehingga tidak dibutuhkan sambungan SR dari PLN dan tidak perlu mengantri untuk mendapatkan kWhmeter listrik dengan harga mahal dan terkadang melalui oknum calo dan yang pastinya tidak akan mengalami pemadaman karena gangguan jaringan atau gangguan pembangkit.

Jika sudah demikian, apakah masih dibutuhkan peranan PLN di sini? Apakah masih dibutuhkan pembangkit, transmisi dan distribusi ? sebuah rumah tangga bahkan bisa menjual listrik ke jala-jala PLN jika oversupply, artinya rumah tangga itu sudah tidak menjadi pusat beban lagi (load center) melainkan sudah menjadi pusat pembangkit skala kecil (mikrogrid). Sehingga, mau tidak mau PLN sebagai pemegang monopoli listrik saat ini di Indonesia akan berhadapan dengan produsen listrik skala kecil sehingga bisnisnya akan terancam. Dan tidak tertutup kemungkinan biaya untuk investasi tiang, tower dan pembangkit skala besar akan bergeser ke skala kecil yang lebih murah dan ramah lingkungan. Kalau sudah demikian, PLN akan dituntut perubahan secara cepat (re-engineering) sepertihalnya Telkom terdahulu. Beberapa orang mengatakan PLN tidak bisa dibandingkan apple to apple dengan Telkom, tetapi dengan semakin murahnya listrik mandiri ini memaksa PLN untuk merevitalisasi bisnisnya ke bisnis skala kecil dan memangkas biaya investasi. Sehingga tidak tertutup kemungkinan bisnis listrik eceran seperti ini akan muncul di kemudian hari.

Siapkah Anda menghadapiancaman bisnis ini?tidak ada bisnis yang disubsidi secara abadi, artinya suatu saat PLN akan menghadapi suasana kompetitif yang sangat berat seperti halnya Telkom saat ini menghadapi gempuran provider GSM dan CDMA swasta. Hanya pegawai yang capable siap menghadapi situasi ini, sedangkan yang tidak, lebih baik pensiun dini (retired). Karena listrik adalah untuk kehidupan yang lebih baik dan setiap orang berhak atas listrik yang murah.
(sumber:teknologi listrik mandiri acaman bisnis PLN oleh Ricky Cahya Andrian)